Paryasop Tangerang

Kenangan (2)



Jumat 9 Jun. 2017 22:27 Eko Pardede
Read 104




Oleh Royal Pangaribuan

Serahkan pada Bapak sajalah!

Bicara kembali soal kenangan, saya teringat masa-masa penerimaan siswa SMA jaman dulu.

Cerita kakakku sewaktu pulang sekolah, dekat sekolahannya ada SMA baru berdiri! Didirikan oleh putra daerah, seorang jenderal bersama teman2 lainnya yg sudah sukses diperantauan. Sekolah berasrama, semua dibiayai, ada uang sakunya, fasilitas hebat, disiplin tinggi ala militer. SMA plus, demikian sekolah itu disebut! Tetapi masuk kesana testnya banyak sekali, yang diterima 40 orang saja. Nilai rapor, nilai STTB, nilai NEM, fisik, psikotest, semua jadi pertimbangan. Setiap sekolah hanya bisa kirim 2/3 orang saja dengan pakai surat pengantar resmi! Temannya ada yg diterima jadi kelas 3! Demikian dengan semangat si Kakak bercerita.

Tak ambil pusing aku, kegiatan sudah terlalu banyak untuk berpikir tentang sekolah! Sawah yg mau dipanen,mencarikan rumput utk kerbau, babi...oh babi, bebek, ladang. Belum lagi harus main bola, main voli! Tak ada lagi energi buat sekolah. Tertarikpun tak, haram maklum, soposurung ke kampung saya lumayan jauh, pun tak ada koran buat dibaca. Otak anak kampung tak sanggup mencerna info sebanyak itu.. Bahkan pernah Bapak bertanya, tamat SMP mau sekolah dimana, jawabku STM saja. Dikepala saya STM itu hebat, ahli bertukang, cepat dapat kerja, banyak laki2nya, jantanlah!

Hari berlalu, ujian ebtanas tiba, NEM keluar, gak ingat berapa jumlahnya (soalnya sampai sekarang NEM SMP tak kelihatan, kajol rimbanya!). Mungkin top 3 se SMP, saya kurang tahu. Karena yg melihat kelulusan itu Bapak, kita asik saja berurusan dengan rutinitas!

Kau lulus dan mau kudaftarkan ke SMA Plus, demikian petunjuk Bapak! Saya tak tahu bagaimana beliau mengurus itu, yang jelas, dari SMP kami ada dua surat pengantar! Bagaimana dia mengurus itu tak taulah, belum sempat kutanya, mungkin itulah judulnya the power of networking! Syarat akademis beres sudah.

Besok harinya, Bapak bawa ke Laguboti. Menginjakkan kaki di laguboti itu rasanya sudah wah... Gemetaran lihat orang2 sekitar. Masuk ke puskesmas! Oleh perawat disuruh duduk, aku lihat Bapak asik bercengkerama saja dengan semua yg bertugas. Ah, masuk akal dia kenal, dia guru di SMA laguboti. Dia akrab dengan seorang Ibu, mungkin rekan sejawat guru. Si Ibu juga bawa anak laki, yg kulihat kepalanya besar, badannya besar. Salaman kami, mungkin dipikirnya, siapalah manusia hitam ini. Hahahahaha. Ah, ternyata sama pula tujuannya, pemeriksaan kesehatan untuk ikut tes ke SMA Plus. Muncul sudah satu saingan, berbadan besar pulak! Tak ada harapanlah. Dikemudian hari, ternyata kami sama2 masuk ke sekolah tersebut, malah menjadi teman baik sampai sekarang! Marga Manurung dan jadi seorang Dokter!

Hari berikut Bapak bawa ke Soposurung, pendaftaran! Surat rekomendasi sekolah, nilai2 juga surat kesehatan semua lengkap. Seharian sibuk juga di SMA Plus itu, manusia dari berbagia penjuru datang. Ada yg cantik, ada yg cakep, ada yg lebih jelek dariku, ada kaya ada miskin. Tapi mostly, yg cantik dari Tapsel lah... Kulit putih, bahasa indonesia yang bagus! Saya seperti kerbau saja dicucuk hidung, dibawa kesana kemari.

Tak terasa hari sudah siang, Bapak menuju ke satu ruangan. Kami disuruh menunggu sebentar. Duduk berdampingan dengan Bapak dan seorang anak, marga Pardede. Pembicaraan kesana kemari sampai terlihat olehku nemnya, 9.9.9.9.angka 9 semua, mungkin ada angka 10. Lemas lutut bah.... Takdir memungkinkan kami jumpa lagi di asrama, sama2 berangkat kuliah ke bandung naik ALS super executive, sama ngontak, berkawan sampai Bapak2.

Tak lama, Bapak anak duluan beranjak. Pun juga Bapakku dipanggil ke ruangan kepala sekolah. Lama bincang didalam entah apa yang dibicarakan. Baru saya tahu setelah sekian lama bahwa Bapak adalah teman kepala sekolah. Sama2 bekerja di SMA laguboti, sebelum kepala sekolah itu dipindah ke SMA plus, marga hutagaol beliau.

Masa ujian tiba, selama 3 hari. Setiap pagi Bapak mengantar naik hondanya ke soposurung. Dingin sekali! Perasaanku?sangat biasa, tidak ada ambisi, tidak ada ide apa yg sedang kukerjakan. Mungkin demikianlah anak kampung, penuh kepolosan. Pun Bapak tak memaksa harus lulus. Datar saja! Mungkin dalam hatinya berharap banyak, entahlah!

Ujiannya masih ingat, hari pertama akademis, hari kedua psikotest, hari ketiga samapta dan kesehatan. Selama proses beruji ini baik di kompleks SMA dan asrama, sesekali anak asrama demikian kita sebut, muncul. Ciri khasnya sangat nyata, cepak, badan tegap, gesit dan kelihatan pintar. Semua yg beruji kelihatan terpesona semua.

Akademis tak masalah, jawab apa yg bisa saja. Hari kedua jelas sangat berat, agak dingin pas dibonceng Bapak naik honda dr kampung ke soposurung, tak ada jaket. Sepanjang ujian menggigil kedinginan, gemetaran. Mana yg menguji dari militer. Pisat Psikologi AD. Seumur2 baru melihat ujian model begini, pertanyaannya aneh aneh, sampai ultimatenya menjumlahkan angka2 didalam kertas sebesar koran, bolak balik. Banyak yg nambah, Aku? Tamat pun tak. Sedih, hancur rasanya. Hahahaha. Hari ketiga harusnya tak masalah, orang kampung bukanlah masalah beradu lari, push up atau sit up. Padi sekarung pun sudah dibawa dari sawah! Masalah hanya waktu pulang ke rumah, ban honda Bapak kempes, saya disuruh pulang duluan dari balige. Keringat dingin, tak pernah naik angkot sebelumnya. Bagaimana menyetop, bagaimana mengatakan berhenti, kapan mengatakan berhenti. Semua sangat menakutkan! Nasib anak desa...

Melihat ke belakang, saya memetik beberapa hal dari Bapak. Hubungan Bapak dan anak saat itu tidaklah akrab, at least itulah yg kualami. Mungkin tipikal di desa masa itu. Tak ada kecupan, tak ada pelukan, tak ada perayaan kelulusan dan lain2. Mungkin Bapak gamang melakukan itu, atau terlalu remeh dibanding beban yg harus dia pikul membesarkan 5 orang anak dengan gaji kecil, sawah hanya beberapa petak. Tapi memang tidak bisa disebut sangat miskin, pas pasanlah! Kamipun anak anaknya tidak menuntut macam macam. Sering kami tidur di meja belajar, atau pura2 hanya untuk ketika Bapak pulang dari kedai, akan diangkat ke tempat tidur! Se simpel itu.

Tapi ketika giliran utk berjuang utk sesuatu hal yg dia yakini, akhirnya bisa kunilai tanggung jawabnya. Mengurus anaknya utk daftar sekolah, menggunakan semua resource yang ada utk memastikan anaknya mendapatkan sekolah yang terbaik adalah hal yg luar biasa. Semakin tua semakin menyadari betapa luar biasanya Bapak pun orangtua kita.

Dimasa senja begini, ketika pulang kampung, yg kami laakukan adalah duduk sepanjang hari diteras rumah, mendengarkan cerita masa lalunya. Selalu ada surprise, termasuk ketika dia menceritakan bahwa raja buntal cucunya SMXXII adalah teman satu kelas di SMA.

We all miss our father, dont we?